Masalah  kesehatan merupakan  masalah  yang  sangat  kompleks yang  berkaitan  dengan  masalah-masalah  lain  diluar  kesehatan  sendiri. Banyak  faktor  yang  mempengaruhi  kesehatan,  baik  kesehatan  individu maupun  kesehatan  masyarakat.  Empat  faktor  menurut  Hendrik  L.  Blum tersebut  antara  lain  lingkungan,  perilaku,  pelayanan  kesehatan  dan keturunan atau genetic  yang berpengaruh satu sama lainnya. Faktor terbesar yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan. Kesehatan  lingkungan  pada  hakikatnya  adalah  suatu  kondisi  atau keadaan lingkungan yag optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya  status  kesehatan  yang  optimum  pula.  Ruang  lingup lingkungan  yang  paling  dekat  dengan  kegiatan  manusia  adalah  rumah, dimana  rumah  sebagai  tempat  tinggal  dan  segala  aktifitas  manusia. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat bergaul dan  membina  rasa  kekeluargaan  diantara  anggota  keluarga,  tempat berlindung dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan status  lambang  sosial  (Azwar,  1996;  Mukono,  2000).

Kultur jaringan adalah teknik pengisolasian bagian tanaman seperti organ jaringan sel dan produksi yang ditumbuhkan dalam media buatan secara aseptik sehingga bagian tumbuhan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Darmono 2003). Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. (Daisy dan Wijayani 1994). Untuk mendapatkan media yang steril, terlebih dahulu harus mensterilkan botol-botol atau tabung media. Sterilisasi adalah kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.  Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

Escharichia coli merupakan salah satu contoh bakteri yang digunakan pada percobaan isolasi plasmid ini. Bakteri ini sering digunakan dalam transformasi gen dan lebih dikenal dengan istilah kloning gen. Selain dalam bakteri, plasmid juga terdapat dalam Saccharomyces cerevisiae. Dalam teknik rekayasa genetika, plasmid biasanya digunakan sebagai vektor untuk kloning. Plasmid dapat dipindahkan antar sel bakteri dengan cara konjugasi atau transformasi. Dalam hal ini, plasmid digunakan sebagai pembawa fragmen DNA asing. Dengan kata lain, plasmid dikombinasikan dengan DNA asing sehingga untuk mengetahuinya dilakukan beberapa percobaan.

Pada saat percobaan terdapat beberapa larutan yang dipakai untuk mengisolasi plasmid sampai elektroforesis. Proses isolasi plasmid, endapan bakteri disuspensi menggunakan larutan EDTA. Hal ini disebabkan larutan EDTA berfungsi sebagai larutan buffer dan sebagai pengkelat yang dapat mengikat ikatan kation sehingga dapat menurunkan tegangan. Endapan yang telah tersuspensi diberi larutan NaOH dan SDS. Tujuan pemberian larutan ini untuk melisiskan bakteri dan menaikkan pHnya. Setelah lisis bakteri diberi larutan sodium asetat yang berfungsi untuk menetralisasi serta menurunkan pH. Selain ketiga larutan tersebut, cairan DNA plasmid diekstrak dengan larutan PCI (Fenol/Kloroform/Isoamil alcohol) dan diberi etanol 70% untuk menghilangkan kandungan garamnya. Pada proses elektroforesis, DNA yang akan dimigrasikan dicampur dengan larutan loading dye dan blue bromophenol. Hal ini untuk menandai laju migrasi DNA dan sebagai larutan pewarna.

Ukuran DNA dapat dilihat dari jarak pita yang muncul pada sumur ketika dielektroforesis. Kerusakan DNA ditandai oleh pita smear pada hasil elektroforesis. Tidak dapatnya DNA dipotong dengan enzim restriksi terlihat dari terbentuk tidaknya pita smear hasil elektroforesis setelah DNA dipotong dengan enzim restriksi EcoRI. EcoRI menghasilkan pita DNA smear ketika dielektroforesis karena enzim ini termasuk ke dalam frequent cutter (Vos et al. 1995). Hasil percobaan kelompok 3 dan kelompok 9 menunjukkan bahwa hasil pemotong DNA nya tidak berhasil karena pita DNA hasil elektriforesis tidak terbentuk. Berdasarkan teori diatas, hal ini terjadi karena DNA tidak dapat dipotong dengan enzim restriksi EcoRI. Pada kelomok 6, pita DNA yang terbentuk tampak tidak jelas dan membentuk suatu garis vertikal yang berpendar. Hal ini kemungkinan cairan DNA yang akan dielektroforesis kotor sehingga pada saat migrasi kotorannya ikut masuk dan membentuk garis vertikal. Sedangkan pita DNA kelompok lainnya menunjukkan hasil yang baik.

Untuk melihat uji kualitas DNA genom dapat dilihat dari besarnya ukuran pita yang ditandai dengan terlihatnya pita yang menyala terang hasil elektroforesis. Dari hasil gambar terlihat pita yang menyala terang dan berukuran besar ditunjukkan oleh kelompok 8, sedangkan pita pada kelompok lain menghasilkan gambar yang sama. Pada hasil uji analisis kuantitas dan kualitas DNA dengan menggunakan spektrofotometer menunjukkan bahwa kemurnian DNA tidak mencapai hingga 100%. Hal ini karena  rasio A260/A280 berkisar berkisar 1.10-1.18, sedangkan menurut literatur yang diperoleh kemurnaian DNA akan tercapai 100% bila rasio A260/A280 berkisar 1.8-2.0 (Sambrook et al. 1989). Dengan demikian kemurnain DNA hasil percobaan ini dapat dikatakan tidak berhasil karena kisaran kemurnian DNA yang dihasilkan tidak memenuhi syarat, yaitu berkisar 1.10-1.18.

Visualisasi elektroforesis pada tingkat konsentrasi dapat dilihat dari tebal tidaknya pita yang terbentuk. Semakin tinggi konsentrasi DNA, maka semakin tebal pita yang dihasilkan, dan semakin rendah konsentrasi DNA akan semakin tipis pita yang terbentuk. Hasil percobaan menunjukkan, nilai konsentrasi DNA yang paling tinggi terdapat pada kelompok 1 sebesar 19800 ng/ μl. Namun dengan demikian, hasil percobaan ini dapat dikatakan berhasil karena pita DNA yang terbentuk mencapai 75%.